Molestias quo fugit quam error.
Apa yang ada dalam pikiran kamu ketika mengingat kata nenek? Orang tua dari orang tua kita? Orang yang selalu memberikan kita apapun yang kita mau ketika orang tua kita tidak mau memberikannya? Orang yang kadang memanjakan kita secara berlebihan? Atau, orang yang merekomendasikan saya buku ini? :p
Saya tidak punya kenangan baik soal nenek saya. Dari 12 cucunya, mungkin saya yang paling nggak deket. Selain rumah saya yang paling jauh, dia juga lebih menyukai cucu lelaki yang cuma ada 2 (3 sebenernya, tapi yang 1 udah gede). Yang ada dalam memori saya saat kecil ya ketika dimarahi simbah pas lagi nonton tivi karena kepala saya menutupi pandangan (padahal sepupu saya yang lain, karena muka kami mirip), menyuruh saya membuat peti kayu, memasak, dsb. Rewel deh. Saya mungkin lebih menyukai sosok mbah kakung yang meskipun pendiam, dia tahu banget tentang saya. Ngajarin peer bahasa jawa, nganterin ke rumah sepupu yang jauh dengan mbonceng sepedanya, dan nganterin pulang ke rumah kalo pengin liburan di rumah mbah lebih lama. Tapi, setelah mbah kakung dan mbah putri nggak ada, ya rasanya beda aja. Saya ini tipe anak yang hobi dimarahin ternyata. Nggak ada yang marahin nggak seru. #eh
Back to the book~
Dimulai dari kehidupan masa kecil Akihiro yang terpaksa harus tinggal bersama neneknya di desa Saga, desa miskin dan terpencil. Pada awalnya, dia harus beradaptasi dengan lingkungannya. Ini agak sedikit susah baginya yang terbiasa tinggal di kota sebesar Hiroshima bersama ibu dan kakaknya.
Disini, diceritakan bagaimana awal kehidupan Akihiro yang tinggal bersama ibunya di Hiroshima setelah ayahnya meninggal dan ibunya harus membanting tulang untuk kehidupan sehari-hari keluarga mereka. Lalu, ketika Akihiro yang semakin dewasa dan butuh perhatian lebih. Tinggal bersama nenek yang terakhir kali ditemuinya ketika masih kecil. Supermarket di halaman belakang rumahnya (barang yang menyangkut di galah panjang buatan neneknya), dan mimpinya untuk menjadi pemain baseball hingga
Comments 0
Marianna59